Krisis Toleransi dan Kebhinekaan

”Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar rasa toleransinya” – DR (HC). KH Abdurrahman Wahid. Kata toleransi pada tahun-tahun terakhir ini senantiasa menggerakkan lebih banyak lidah dan pena. Makna kata itu yang istimewa dan lebih dalam terletak di dalam hal bahwa kata tersebut tampaknya mengakibatkan berbagai emosi tergantung kata itu diucapkan oleh seseorang. Menurut KBBI, toleransi adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Beberapa hari yang lalu kita sempat mendengar berita tentang persekusi terhadap biksu di Banten, penyerangan terhadap gereja di Yogyakarta, dan penganiyaan terhadap kiai di Bandung.

Lantas hal tersebut dengan jelas bahwa negara kita akan mengalami masalah krisis toleransi yang bisa memecah belah persatuan NKRI. Padahal, para founding fathers menciptakan pancasila dan UUD 1945 demi mempersatukan berbagai golongan, kalangan, elemen masyarakat di negeri kita. Pancasila dibuat serta merta untuk mempersatukan seluruh elemen masyarakat yang berbeda dan kemajemukan yang berpotensi kemajuan. Sungguh miris ketika melihat suasana dimana perbedaan dianggap tabu, mereka yang tidak bisa menerima realita/kenyataan sosial dan ingin menyeragamkan pikiran yang beragam sungguh akan memiskinkan kemanusiaan. Justru mereka yang melihat keberagaman sebagai kemajuan, akan memperkaya kemanusiaan.

Belum lagi, akhir-akhir ini media seringkali membuat masyarakat terprovokasi. Masyarakat seolah-olah dibuat “menjadi paling benar, saking kental untuk membenarkan dirinya sendiri saking kental pula untuk mengeksekusi/mempersekusi orang lain”. Penulis berharap bagi pembaca bahwa kita harus menggalang persatuan NKRI dan melihat perbedaan sebagai kekayaan dan potensi kemajuan. Mari saling tebar rasa kooperatif, semangat & spirit keberagaman dan hindari sikap apatis dan pasif demi memajukan persatuan NKRI.

”Pintar saja, tak perlu merasa pintar, baik saja, tak usah merasa baik, shalih saja, tak usah merasa shalih. Karena kegaduhan seringkali disebabkan oleh orang yang MERASA PALING benar, pintar, baik, shalih” – Ahmad Rifa’i Rif’an

Salam NKRI!

 

Advertisements

Kritik Kontemporer

Ketika masih kecil beranjak sekolah dasar, banyak anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi dokter, insinyur, tentara, polisi, dsb. Ketika sudah beranjak masa SMP/SMA/SMK barulah bermunculan cita-cita yang mempunyai idealisme tersendiri, seperti halnya ingin menjadi animator, illustrator, musisi, seniman sampai youtuber. Cita-cita tersebut terlahir karena di fase itulah kebanyakan dari meraka menemui passion tersendiri. Kendati demikian, cita-cita terkadang terbunuh/mati dikala harus vis a vis terhadap orang tua sehingga menimbulkan konflik batin.

Contoh kasusnya adalah orang tua ingin anaknya menjadi akuntan karena lapangan kerjanya luas tetapi anaknya ingin menjadi illustrator karena sudah mengenal dirinya dan persisten terhadap idealismenya. Disitulah konflik batin lahir, Hal tersebut memang tak dipungkiri lagi pemikiran pemikiran orang tua mayoritas berpikir “yang penting dapat kerja, yang penting tidak menjadi pengangguran, bisa mendapatkan uang”. Yang penulis pikirkan adalah, kenapa kebanyakan pemuda zaman sekarang stress sehingga tidak bisa memilih jalan hidupnya sendiri?, kenapa kita seperti layaknya anak yang dikomodifikasikan/dipersiapkan untuk masuk pasar kerja? kenapa kita dipersiapkan untuk menjadi pekerja? sehingga idealisme mati dan terbunuh. Kebanyakan dari kita dituntut untuk mencari pekerjaan yang bersifat materialistik atau financial-oriented. Tetapi bukankah seharusnya mereka mempercayakan terhadap generasi muda untuk meneruskan perjuangan dan berkontribusi bagi bangsa dan negara?.

Beribu-ribu hal skeptis yang terlontar kepada anak anak yang mempunyai cita cita yang idealisme tinggi namun sulit diterima. Penulis sangat berharap tulisan penulis bisa bermanfaat bagi yang membaca. Semoga harapan penulis yaitu dengan adanya ”reformasi pola pikir” atau ”reformasi pendidikan” bisa di timbul bagi pemuda yang sudah muak dengan sistem pendidikan kontemporer ini.

Cara Berpikir Kritis, Rasional, dan Kreatif

Langkah pertama agar kita bisa berpikir kritis, kita harus memahami dulu definisinya. Saat ini, banyak yang salah kaprah tentang berpikir kritis. Dikiranya, pandai menyalahkan orang lain disebut kritis. Padahal bukan, itu bari sebagian dari berpikir kritis.

Jika kita baca definisinya dari wikipedia, Critical thinking is a way of deciding whether a claim is true, partially true, or false. Artinya adalah sebuah cara menentukan apakah sebuah klain itu benar, sebagian besar, atau salah. Jadi, berpikir kritis tidak melulu melihat kesalahan saja, tetapi melihat kebenaran juga.

Berpikir kritis bisa didefinisikan dengan sederhana, yaitu melihat bagian mana yang salah atau tidak. Berpikir kritis adalah bagian dari proses saat kita berpikir Zoom In, artinya agar kita bisa melihat sesuatu lebih detil. Kemudian kita bisa membetulkannya.

Apa kaitannya berpikir kritis dengan sukses? Jelas sekali kaitannya. Jika Anda belum sukses saja, atau saat Anda menghadapi sebuah masalah, Anda harus mampu melihat apa yang Anda lakukan dengan benar, mana yang salah, mana yang benar dengan jeli.

Inilah yang disebut Anda kritis pada apa yang Anda lakukan, sehingga mampu menemukan mana yang salah dan benar. Mempertahankan yang benar dan memperbaiki yang salah. Berpikir kritis pada diri sendiri jauh lebih memberikan manfaat daripada hanya mengkritisi orang lain, itu pun hanya melihat salahnya saja.

  • Cara Agar Bisa Berpikir Kritis

Setelah memahami definisi berpikir kritis, harusnya Anda sudah mulai bisa membayangkan cara agar berpikir kritis. Ada beberapa keterampilan berpikir yang perlu kita miliki agar dapat berpikir kritis. Yang pada intinya, berpikir kritis bukan hanya mengandalkan logika, tetapi metode dan wawasan yang memadai. Adalah tidak valid pemikiran kritis dari orang yang wawasannya masih sempit.

Ternyata, cara untuk berpikir kritis tidak mudah?

Disinilah masalahnya, kita memang tidak diajarkan sejak awal cara untuk berpikir kritis sejak kita sekolah. Yang dijejalkan kepada kita lebih banyak teori, informasi, dan beban untuk mendapatkan nilai ujian yang baik. Namun cara berpikir, sering kali kurang mendapatkan perhatian. Sehingga, saat kita belajar cara agar bisa berpikir kritis, terlihat seperti sulit.

  • Cara Cepat Berpikir Kritis

OK, itu kesalahan pendidikan kita, memperbaiki pendidikan butuh waktu. Sementara, untuk kemajuan kita, baik diri sendiri maupun kemajuan bangsa secara umum, kita perlu cara cepat berpikir kritis. Karena kita butuh … mendesak!
Langsung saja, kita belajar cara melatih berpikir kritis. Caranya sederhana. Tetapkan sebuah objek, peristiwa, pernyataan, sistem, atau apa pun yang akan dijadikan untuk melatih diri. Contohnya Anda akan mengkritisi apa yang selama ini Anda lakukan untuk meraih sukses tertentu.

Langkah pertama kita harus memiliki kriteria. Salah dan benar atau penilaian itu harus ada kriterianya. Misalnya, untuk menilai sistem kerja Anda selama ini, kriterianya berkaitan dengan sukses Anda. Apakah akan mendekatkan diri kepada sukses, atau tidak? Jika mendekatkan, artinya punya nilai benar atau bagus.

Langkah kedua, cobalah pecahlah sistem Anda kedalam bagian-bagian lebih kecil. Atau bisa juga dengan meninjau dari berbagai aspek yang terkait.

Langkah ketiga, amati setiap bagian, bandingkan dengan kriteria Anda. Jika perlu pecah lagi dan bandingkan.

Kemudian ambil kesimpulan, mana yang benar dan mana yang salah.
Tentu saja, cara ini adalah cara sederhana. Namun cukup aplikatif untuk kehidupan kita sehari-hari.
Cara mengasah berpikir kritis ialah Anda harus sering melakukan metode berpikir seperti ini. Yang namanya mengasah adalah mengosok berulang-ulang, artinya Anda harus melakukannya secara berulang-ulang. Mengasah berpikir kritis adalah cara meningkatkan berpikir kritis Anda.

Namun, seperti dijelaskan diatas, bahwa apa yang dijelaskan disini adalah cara sederhana untuk masalah pribadi. Saat Anda mau menerapkan berpikir kritis untuk masalah yang lebih besar, akan lebih kompleks lagi. Anda perlu mengetahui cara mengembangkan berpikir kritis.

Cara mengembangkan berpikir kritis ialah dengan mengembangkan wawasan, kemampuan logika, dan berbagai metode berpikir lainnya. Begitu juga dengan pemahaman nilai-nilai yang akan diperlukan saat memberikan penilaian.

  • Cara Berpikir Rasional, Kritis, Dan Kreatif

Bagaimana cara berpikir kritis dan rasional? Sudah satu paket! Kalau Anda sudah berpikir kritis dengan baik, sekaligus Anda akan berpikir rasional. Pada dasarnya, berpikir rasional adalah cara berpikir dengan menggunakan “rasio” atau logika dan mengesampingkan emosi. Berpikir rasional adalah bagian dari berpikir kritis.

Jika digabungkan berpikir kreatif dan kritis, akan sangat hebat. Berpikir kritis akan menemukan area-area yang perlu diperbaiki. Sementara, dengan berpikir kreatif Anda akan mampu mencari ide-ide solusi untuk memperbaiki area-area yang bermasalah.

Cara berpikir kreatif dan kritis adalah dua hal yang berbeda. Keduanya memiliki metode tersendiri, sebab memiliki tujuan yang berbeda pula. Silahkan pelajari ebook saya Anda Pun Bisa Jenius untuk mempelajari cara berpikir kreatif.

  • Cara Mengatasi Hambatan Dalam Berpikir Kritis

Hambatan dalam berpikir kritis pada dasarnya ada dua, yang pertama emosi (hawa nafsu) dan yang kedua wawasan yang kurang memadai. Saat emosi kita menguasai, misalnya kebencian atau kecintaan, bisa melumpuhkan logika. Hawa nafsu melumpuhkan akal.

Cara mengatasi hamabatan dalam berpikir kritis yang pertama adalah tidak memperturutkan hawa nafsu. Didalamnya tidak mengikuti kebencian atau kecintaan, tetapi lebih fokus pada data, logika, dan nilai-nilai.

Cara kedua adalah dengan menambah wawasan terus menerus. Adalah salah jika berpikir hanya menggunakan akal saja. Berpikir akan selalu menggunakan informasi yang ada dalam memori Anda. Semakin banyak dan utuh informasi yang dimiliki, maka logika kita akan semakin tajam dan kita akan berpikir lebih kritis.

Mudah-mudahan, pengetahuan cara berpikir secara kritis ini bisa berguna untuk berbagai aspek kehidupan kita termasuk meraih sukses yang gemilang.

Wall Of Shame : Armenian Genocide

The Ottoman Empire, ruled from Constantinople, lasted from 1299 to 1922, when it was succeeded by the Republic of Turkey. The Ottoman Empire entered World War I on the side of the German Empire and the Kingdom of Bulgaria; collectively, they were unsuccessfull in their attempts to overtake certain regions, they blamed their failure on the Armenian population.

Armenian was a landlocked province to the east of Turkey that bordered, at the Time, the Russian Empire and the Persian Empire. The Ottoman government became hostile to its Armenian population when volunteers from that region worked in aid of the Russian army in their advances into Armenian territory. The hostility was so great that it led to a policy of genocide, a clear will to completely eliminate the Armenian Population. Around April 24, 1915. 250 Armenian intellectuals and leaders in Constantinople were arrested. Armenian families were evicted from their homes and massacred or sent on death marches, forced to march hundreds of miles to what is now Syria, without food, water, or shelter. Women and children were repeatedly raped and death was virtually inevitable. Some scholars estimate that as many as two millions Armenians and other minor ethnic groups in the region were killed between 1915 and 1923. About 500,000 fled to neighboring countries.

France, Russia, and Great Britain publicly deplored the acts of the Ottoman government, defining them as a “new crime against humanity and civilization.” In 1943, the expression “genocide” was coined to describe the wilful extermination of the Armenian people. Today, the Republic of Turkey, which succeeded the Ottoman Empire, refuses to acknowledge their actions as genocidal.

1915-armenian-genocide

Armenian Genocide. April 24,1915. History does not faded away.

15

Armenian Genocide Memorial

Fidel Castro, Satu Januari Yang Keramat

  • Profil Singkat

Revolusi, Kuba, dan cerutu hampir selalu mengingatkan semua orang kepada sosok revolusioner, Fidel Castro. Dialah sang maestro peletak sosialisme kebangsaan di Kuba pada 1 Januari 1959, yang merupakan puncak darai Revolusi Kuba. Di tangan Castro, Kuba menjelma menjadi negara penentang pemerintahan yang korupsi dan menolak keras model kepemimpinan negara atas intervensi Amerika Serikat. Rakyat Kuba bernapas lega karena lepas dari tirani dan kediktatoran rezim Fulgencio Batista yang menindas dan haus akan kuasa.

Akan tetapi, Revolusi Kuba tidak terjadi begitu saja. Fidel Castro, dengan dibantu oleh Che Guevara, dan orang-orang yang sejalan dengannya, berjuang di bawah tanah, mengorbankan jiwa raga dalam waktu lama. Tak terhitung pemberontakan dan perlawanan dilakukan oleh Fidel Castro beserta orang-orangnya.

Semua orang yang ditindas oleh rezim Batista, dengan dipimpin oleh Fidel Castro bersatu, merancang strategi, dan melakukan pemberontakan bersenjata. Batista tumbang dan Kuba menuju era baru, era saat rakyat berhak mendapatkan hak-haknya atas Kuba dan era kepemimpinan tanpa didikte oleh Amerika Serikat.

Fidel Castro lahir pada 13 Agustus 1926 di Mayari, provinsi Oriente, Kuba. Ia terlahir dari pasangan Angel Castro Argiz dan Lina Ruz Gonzalez. Fidel Castro merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara.

Usia sekolah Castro dihabiskan di Santiago de Cuba, Colegio de Belen. Di Santiago de Cuba, ia mengenyam pendidikan dasar dan tinggal di sebuah asrama. Saat itu, usianya baru menginjak enam tahun. Selepas dari sekolah dasar, tahun 1945, Castro melanjutkan pendidikan ke Colegio de Belen , sebuah sekolah di bawah Yayasan Jesuit. Di sekolah ini, ia menaruh minat pada bahasa Spanyol, pertanian, dan sejarah Kuba. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Havana.

Masa-masa di Havana inilah, titik balik kehidupan Castro dimulai. Ia mulai terlibat aktif di dunia politik, khususnya politik kampus. Ini dibuktikan dengan terpilihnya Castro sebagai Presiden Federasi Mahasiswa di universitas tersebut. Posisinya sebagai presiden ini, membuat Castro melibatkan diri dalam sebuah kudeta terhadap Rafael Trujillo, pemimpin diktator Republik Dominika.

Kudeta in tidak berhasil sehingga Castro sering mendapatkan ancaman atas keterlibatannya. Untuk mengamankan diri, ia pergi ke New York, Amerika Serikat. Dalam pelarian, ia terlibat dalam kerusuhan, yakni sebagai organisatoris kongres mahasiswa di Bogota, Kolombia, dalam kerusuhan yang dikenal sebagai Bogotazo. Kerusuhan di Bogota, menyebabkan Eliecer Gaitan, kandidat calon Presiden Kolumbia dari Partai liberal meninggal dunia.

Pada tahun 1950, Castro berhasil meraih gelar doktor di bidang hukum. Pada tahun yang sama, ia kembali ke Kuba dan membuka praktik layanan hukum gratis terhadap orang miskin. Di sela-sela praktiknya sebagi pengacara, pada tahun 1952, Castro aktif dan ikut serta dalam gerakan bawah tanah melawan Fulgencio Batista yang berhasil melakukan kudeta terhadap Carlos Prio Scarras, Presiden Kuba.

Setahun kemudian, 1953, Castro melakukan serangan ke Moncada Santiago de Cuba. Serangan ke barak militer yang dipimpin oleh Castro dengan jumlah 165 orang tidak berhasil dan Castro dipenjara atas tindakan itu. Setelah Castro bebas pada 15 Mei 1955, ia memimpin kembali upaya kudeta terhadap Batista.

Mula-mula, gerakan Castro dimulai dari Meksiko pada 7 Juli di tahun yang sama, ketika ia pertama kali bertemu Che Guevara. Bersama 81 orang, pada 2 Desember 1956, Castro dan Che Guevara melakukan serangan gerilya di Pegunungan Sierra Maestra. Sekitar 25 bulan lamanya sampai pada tahun 1958, pasukan pemberontak ini memulai serangan terhadap kekuasaan Batista di beberapa tempat di Kuba.

Puncak dari gerilya ini terjadi pada 1 Januari 1959 ketika Batista menyerah pada pasukan yang dipimpin oleh Castro. Batista melarikan diri ke Republik Dominika. Kemenangan ini menjadikan Fidel Castro diangkat sebagai perdana menteri Kuba dan sebagai sekretaris Partai Komunis Kuba (Communist Party of Cuba). Pada tahun 1965, Fidel beserta kawan-kawannya berhasil menjadikan Kuba sebagai negara republik-sosialis dan memberlakukan sistem satu partai.

Wall Of Shame : Human Trafficking

The face of slavery today is as frightening as it ever was in the days of our ancestors, in the far-away countries we only ever heard about. Today, we wear T-shirts made by virtual slaves. Our children play with the toys they make. Some of our men view the pornography they perform. Human trafficking is what we called today,but the end result is the same: a displacement from one’s home, then forced labor with no end to its term and no recompense for the worker.

Under the promise of immigration papers, human trafficking brings people from underdeveloped economies to Western cities where they must work off their debt in textile sweatshops. Human trafficking brings prostitutes women and children,both girls and boys to be forced to work in prostitution rings or pornography production. And it is dozen other degrading,hopeless, and disturbing ways humans have found to profit from those who are desperate and unprotected.

Human trafficking is the fastest growing criminal industry in the world. It includes both legal and illegal activities that amount to estimated global revenues of between $5 and $9 billion. According to the United Nations, human trafficking includes organ trafficking,bonded labor,involuntary servitude,domestic servitude and child labor. Its activities are often well-hidden from the public’s view or media.

  • Organ Trafficking

Organ trafficking is an organized crime that begins when a recruiter finds a victim. The crime implicates participation at many level: hospitals or clinics, medical professionals, middlemen and contractors, buyers, banks where they are stored, and possibly other dimensions not yet identified.

In this involuntary trade, the victims’ body organs are taken with out their knowledge ore else removed under false pretences with no compensation. Some people are coerced into giving up an organ or agree to sell it from sheer financial desperations. In this case,they are often cheated out of the monies promised them. Others undergo surgery for another procedure-sometimes for legimitate treatment, other times under completely false pretences-and wake up to find and organ has been removed without their knowledge.

Many of the victims of organ trafficking are migrants, homeless, or illiterate. The most commonly traded or stolen organs include kidneys and the liver, although any organ that can be removed and used on the illegal trade market is vulnerable.

Organ trafficking seems to be on the rise. It is believed that 10 percent of all organ transplant performed around the world are obtained through the black market and organ trafficking.

  • Bonded Labor

This is the exploitation of a person who believes themselves to be indebted to the perpetrator . It is often called “bonded labor” or “debt bondage”. In typical scenario, the worker falls into this situation by accepting to work in exchange for money loans or for immigration papers. The repayment expected in labor far exceeds the value of the money or service traded. In some cases, and in some countries, the debt is passed from generation to generation,meaning that entire families can be enslaved for decades. According to Anti-Slavery International, there are currently at least 20 million bonded laborers in the world today.

  • Involuntary Servitude

Victims of involuntary servitude are trapped into work agreements that are enforced by threat of serious physical harm or legal consequences, such as deportation. They often experience physical and verbal abuse and are intimidated into a submission that prevents them from ever receiving information about their actual rights. Victims are often economic migrants or low-skilled laborers trafficked from developing nations to prosperous ones.

  • Domestic Servitude

Similar to involuntary servitude, victims are trapped by coercion into service in private homs. Women, and especially children, are the main targets; they are usually illegal immigrants brought Western families. At the best of times, domestic work is unregulated because it is removed from the public eye. In many situations of this kind of human trafficking, the victims are subjected to physical, sexual, or emotional abuse.

  • Child Labor

Perhaps the most recognized from human trafficking is child labor, in which children are sold or traded into bonded or forced labor. In many country around the world, children may legally obtain “light” work whose wages their families rely on. Child labor also includes the use of the children in armed conflicts, military operations or military training for future operations. Children are often forced into these situations for their very survival, or that of their family. Sometimes they are lured into work under the false promise of freedom.

Regardless of the form it takes, human trafficking is slavery. Its victims generally have no means to obtain their own freedom, at least not that they themeselves are aware of. They typically have no access to education or medical assistance, and they have no way of communicating with authorities that could help them. The U.S. Department of State estimates that, internationally, there are between 600,000 and 800,000 humans trafficked yearly. If we add those who are trafficked yearly. If we add those who are trafficked within domestic borders, the number would jump drastically.

The forced labor market costs the world about $20 each year; there is a huge economic incentive to end forced labor and to bring about decent living conditions for every human. In 2000, the United Nations introduced the Conventions against Transnational Organized Crime, also known as the Palermo Convention. Two specific protocols called for the prevention, suppression, and punishment for the trafficking of persons and a protocol against the smuggling of migrants through all means of transport. The International Labor Organization has launched a program to abolish forced labor, in all its forms, by 2015. They have joined forces with several international organizations in lobbying governments to take measures to combat these kinds of slavery.

It is also essential that the individual consumer be part of this global alliance to end human trafficking, whose victims are producing services and goods that we consume. If we buy a T-shirts, let’s consider who picked the cotton and where it was made . Was it made by slave? A sweatshop worker? A child? Let’s be aware of where our products come from and let’s support programs that are working to eradicate forced labor.